Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Mengenal Senjata Tradisional Paling Populer di Indonesia

Senjata parang dan pisau tradisional adalah sebuah alat yang digunakan oleh suku-suku di Indonesia pada masa lalu sebagai senjata untuk berburu maupun sebagai alat membela diri apabila terjadi pertikaian.
Pada saat ini senjata parang dan pisau biasa digunakan hanya untuk ke kebun atau sedang memasuki wilayah hutan. Bagi sebagian orang yang masih meyakini tahyul parang dan pisau tradisional ini dianggap mengandung nilai mistis, seperti Mandau (Dayak), Rencong (Aceh) dan Keris (Jawa). Tapi bagi orang yang berfkiran lebih modern parang hanyalah sebuah parang dan pisau hanyalah sebuah pisau, tidak punya kekuatan apa-apa (hanyalah sebuah benda mati buatan tangan manusia).

Marilah kita telusuri apa-apa saja jenis-jenis parang dan pisau tradisional milik bangsa Indonesia ini.

1. Mandau (Dayak, Kalimantan)
Spoiler for Mandau


Senjata khas suku Dayak ini, lebih menyerupai sebuah pedang karena ukurannya agak panjang. Mandau ini sangat populer bahkan sangat populer sampai ke luar negeri. Tak terbilang berapa banyak turis mancanegara yang membawa senjata 'Mandau' khas suku Dayak ini sebagai suvenir untuk dibawa pulang ke negeri mereka.
Beberapa kisah tragis tentang Mandau ini pun pernah terjadi beberapa kali, pada saat pertikaian antar suku-suku di kalimantan yang 'konon' telah memakan korban ratusan kepala manusia yang dipenggal oleh 'Mandau' ini.

2. Rencong (Aceh, Sumatra)
Spoiler for Rencong

Senjata khas suku Aceh ini lebih menyerupai sebuah pisau karena ukurannya agak pendek. Rencong ini lumayan populer di kalangan bangsa Indonesia, karena bentuknya yang unik. Rencong ini merupakan senjata para bangsawan Aceh pada masa lalu, dan merupakan suatu kebanggaan dan tanda kejantanan bagi pemilik Rencong ini.
Pada masa peperangan melawan penjajah, Rencong ini menjadi salah satu senjata penting bagi masyarakat Aceh untuk melakukan perlawan terhadap penjajah.
Bagi sebagian kecil masyarakat Aceh, Rencong ini sering dianggap sebagai benda pusaka dan keramat, terutama yang telah berusia tua.

3. Keris (Jawa Tengah)
Spoiler for Keris

Senjata khas suku Jawa, khususnya bagi masyarakat Jogja dan Jawa Tengah ini adalah suatu senjata yang mengandung nilai mistis dan sakral. Bagi masyarakat Jawa penganut aliran kejawen, bahkan keris ini dianggap memiliki jiwa dan harus dipelihara, dimandikan bahkan diberi makan ? lumayan aneh ... tapi itulah yang terjadi !
Keris ini memiliki panjang seperti sebuah pisau, hanya saja bentuknya yang tergolong unik, karena bentuknya meliuk-liuk seperti seekor ular.
Menurut kisah-kisah masyarakat Jawa Tengah, Keris ini merupakan kebanggaan bagi kaum priyayi (kaum keraton) dan diselipkan di pinggang sebelah kiri sebagai perlambang keperkasaan dan kebangsawanan.

4. Kelewang (Sumatra Utara)
Spoiler for Kelewang

Kelewang ini sebenarnya bukanlah senjata khas suku-suku di Sumatra Utara pada masa lampau, seperti Piso Surit atau Pedang Gajah Dompak. Kelewang yang lebih menyerupai pedang panjang ini sebenarnya mulai dikenal pada masa tahun 1900 an ... digunakan sebagai alat untuk merampok bagi kalangan perampok pada masa lalu.
Tercatat pada tahun 1980 an, di kota Medan, kelewang kerap dijadikan sebagai alat untuk perkelahian antar preman ataupun antar organisasi. Hingga kini keberadaan kelewang mulai memudar digantikan oleh parang yang lebih pendek dan lebih praktis.

5. Badik (Bugis-Makasar, Sulawesi)
Spoiler for Badik

Senjata pendek ini dinamakan 'Badik' bagi masyarakat Bugis-Makasar. Bentuk nya menyerupai pisau, dan hampir mirip dengan senjata khas Rencong milik suku Aceh.
Badik ini mempunyai sejarah yang cukup lama sejak awal masa kerajaan-kerajaan di Sulawesi, sudah digunakan sebagai alat untuk membela diri maupun pertikaian antar individu maupun antar kelompok.
Sepertinya Badik ini menjadi suatu bagian bagi setiap pemuda Bugis-Makasar pada masa lalu, karena kemanapun setiap pemuda Bugis-Makasar pergi pasti selalu membawa Badik yang disembunyikan di antara celana dan pinggangnya.

6. Kujang (Sunda, Jawa Barat)
Spoiler for Kujang

Kujang adalah sejenis parang khas milik masyarakat suku Sunda pada masa lampau. Saat ini sudah jarang yang memiliki Kujang, karena sudah tergantikan oleh Bedok (Parang Kebun) yang lebih praktis. Kujang memiliki bentuk yang tidak kalah unik dibanding Keris dan Rencong. Bagi masyarakat Jawa Barat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, maka sepertinya lebih efisien membawa Bedok. Nasib Kujang sendiri pun saat ini hanyalah sebagai barang pajangan atau disimpan sebagai benda koleksi saja.

7. Clurit (Madura, Jawa Timur)
Spoiler for Clurit

Clurit ini sebenarnya hanya sebuah perangkat kebun biasa, digunakan sebagai alat untuk menebas/ memotong rumput bagi masyarakat Madura, untuk memberi makan ternak sapi. Tetapi tidak jarang Clurit ini pun digunakan sebagai alat untuk bertikai antar individu. Sering terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur para pelaku kejahatan menggunakan Clurit ini untuk merampok. Senjata ini cukup praktis dan bentuknya menyerupai bulan sabit (melengkung dan tajam di bagian dalam), praktis untuk digunakan sebagai alat berkebun.
Di beberapa daerah lain di Indonesia seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat, clurit ini juga digunakan untuk kegiatan berkebun tapi dengan sebutan yang berbeda, yaitu Arit.

8. Pisau Belati (Papua)
Spoiler for Pisau Belati

Salah satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau Belati. Senjata ini terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu belati tersebut. senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang

9. Parang Salawaki (Maluku)
Spoiler for Parang Salawaki

Parang Salawaki menjadi senjata khusus yang sering dipergunakan oleh penduduk asli Maluku dalam berperang melawan musuh. Salah satu perang yang mempergunakan senjata ini adalah ketika Kapitan Patimura dan rakyatnya perang melawan tentara Belanda.Parang berarti pisau besar, biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari pisau, namun lebih pendek jika dibandingkan dengan pedang. Salawaki sendiri memiliki arti perisai. Perisai adalah alat yang dipergunakan untuk melindungi diri dan untuk menangkis serangan senjata lawan

10. Pasatimpo (Sulawesi Tengah)
Spoiler for Pasatimpo

Pasatimpo adalah sejenis keris yang bentuk hulunya bengkok ke bawah dan sarungnya diberi tali. Senjata ini sering digunakan oleh masyarakat setempat dalam tari-tari penyembuh yang berfungsi sebagai pengusir roh-roh jahat. Kini, Pasa timpo lebih sering digunakan dalam tari-tari kepahlawanan. Fungsinya hanya untuk membesarkan jiwa penarinya. Karena keris tidak digerakan tetapi cukup diikatkan saja pada pinggang penari sebagai hiasan.

11. Sampari (Nusa Tenggara Barat)
Spoiler for Sampari

Masyarakat di kabupaten Bima dan Dompu yang berasal dari satu etnis yaitu Mbojo, mendiami bagian timur pulau Sumbawa, mengenal tradisi menganugrahkan senjata (keris) kepada anak laki-laki menjelang di-khitan. Tradisi ini disebut Compo Sampari yang berlangsung sampai sekarang. Si anak yang telah dianugrahi (Compo) keris (Sampari) dari kakek-nya, selanjutnya melakukan Maka dengan ucapan sebagai berikut : "Mada dau Raga, Wau Jaga Sarumbu" yang arti harfiahnya, saya laki-laki jantan, sanggup menjaga diri atau membela diri.

12. Golok (DKI Jakarta)
Spoiler for Golok

Salah satu senjata tradisional masyarakat Betawi, yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan sudah menyatu dalam kehidupan mereka. Setiap keluarga Betawi pasti memilikinya, bahkan setiap lelaki pada zaman dahulu selalu membawanya kemanapun mereka pergi,bahkan ada beberapa pantun yang diciptakan berkaitan dengan golok.

Golok gue golok Ciomas,
Sepotong perak sepotong emas,
Kalau ngomong jangan bikin panas,
Entar gue cincang seperti nanas.

Sumber : http://repostkaskus.blogspot.com/2012/04/mengenal-senjata-tradisional-indonesia.html#ixzz225hXam1A

Beberapa Amalan Bid'ah di Bulan Ramadhan

Dalam menyambut bulan Ramadhan kali ini, ada beberapa hal yang mesti kita ketahui berkenaan aktivitas ibadah yang akan kita lakukan. Sebagai kaum muslimin yang mencintai sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, kita wajib mengetahui mana saja ibadah yang sesuai sunnah dan ibadah apa saja yang menyelisihi sunnah. Karena Ibadah itu haruslah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan hal itu juga menjadi sebab diterimanya sebuah amal. Sebelum kita bahas lebih lanjut, terlebih dulu kita ketahui dua syarat diterimanya suatu ibadah.

Dua Syarat Diterimanya Suatu Ibadah

Ibadah diterima dengan dua syarat,

1.      Pertama, ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala
2.      Kedua, sesuai dengan sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam

Mengenai rasa ikhlas, Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena  Allah dan Rasul-Nya (ikhlas), maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju.”[1]

Mengenai diharuskannya ittiba’ (mengikuti sunnah) dan larangan ibtida’ (menyelisihi sunnah), Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda:

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru (bid’ah) dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[2]

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”[3]

Saya berkata: Dua hadits diatas, yang pertama hadits yang diterima dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang merupakan peringatan keras dari Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam kepada orang yang membuat amalan bid’ah, dia sengaja membuat amalan-amalan baru, dengan maksud untuk diikuti orang ataupun tidak. Sedangkan hadits kedua merupakan ancaman bagi orang yang mencontoh dan mengamalkan bid’ah yang tidak dibuat olehnya, dengan kata lain, orang tersebut hanyalah ikut-ikutan mengamalkan. Ini memberi kita pemahaman bahwa baik orang yang mempelopori bid’ah dan orang yang mengikuti bid’ah tetap saja diperingatkan oleh Rasulallah shalallahu ‘alaih wa salam bahwa amalan mereka mardud (tertolak).

Mengenai jeleknya berbuat bid’ah juga pernah diucapkan oleh salah seorang sahabat, yakni Abdullah Bin Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.[4]

Dua syarat diterimanya ibadah diatas juga telah dijelaskan oleh para ‘ulama salafush shalih, diantaranya:

Imam Fudhail Bin Iyadh rahimahullah, beliau berkata: “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shalallahu ‘alaihi wa salam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab (sesuai sunnah). Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila sesuai dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.”[5]

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, beliau berkata: “Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak.”[6]

Beberapa Amalan Bid’ah di Bulan Ramadhan

Diantara beberapa bid’ah yang dianggap sunnah oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia saat ini, yaitu:

1.      Sengaja Membangunkan Orang Sahur dengan Teriakan atau Nyanyian

Yakni membangunkan orang untuk sahur dengan berteriak: “Sahur… Sahur…”. Perbuatan seperti ini tidak ada contohnya di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan tidak pula diperintahkan oleh beliau. Dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in.

Di Mesir, para muadzin menyerukan lewat menara masjid: “Sahur… Sahur… Makan… Minum…”, kemudian mereka membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berspuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”[7]

Di negeri Syam (Yordania, Palestina) lebih parah lagi, mereka membangunkan sahur dengan membunyikan alat musik, bernyanyi, menari dan bermain.

Tidak ketinggalan di Indonesia, berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang awam. Ada yang keliling kampung sambil teriak-teriak: “Sahur… Sahur…” Di sebagian daerah dengan membunyikan musik lewat mikrofon masjid atau dengan membunyikan tape dan membawanya keliling kampung, ada yang membunyikan mercon atau meriam bambu, dan lain sebagainya. Semua itu adalah perbuatan bid’ah.

Syaikh Abdul Qodir Al-Jazairi rahimahullah, beliau berkata: “Apa yang dilakukan oleh sebagian orang jahil (bodoh) pada zaman sekarang di negeri kita (Al-Jazair, termasuk juga di Indonesia, ed) berupa membangunkan orang puasa dengan kentongan merupakan kebid’ahan dan kemungkaran yang seharusnya dilarang dan diingatkan oleh orang-orang yang berilmu.”[8]

2.      Imsak

Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh sebagai masyarakat kita yang kurang mengenal sunnah yang shahih. Mereka menganggap bahwa ketika ada bunyi atau teriakan imsak, maka semuanya harus berhenti makan dan minum. Bahkan lebih parah lagi jika ada yang menganggap jika setelah imsak masih makan atau minum, maka puasanya batal. Hal ini adalah sebuah kekeliruan, karena perbuatan yang benar yaitu berhenti sekitar (lama waktunya) ketika dibacakan 50 ayat dari Al-Qur’an.

Sahabat Anas meriwayatkan dari Zaid bin Sabit radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kemudian beliau shalat. Maka kata Anas, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”, Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca ayat al-Qur’an.”[9]

3.      Melafadzkan Niat Puasa

Hal ini adalah perbuatan bid’ah, yang kebanyakan masyarakat kita melafadzkan niat: “Nawaitu shauma ghadin, dst…” Niat yang benar ketika akan puasa ramadhan yaitu meniatkan pada malam sebelumnya tanpa dilafadzkan, karena niat itu tempatnya di hati, bukan di bibir.

Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah: “Tak seorangpun dari imam yang empat, baik Imam Syafi’i rahimahullah maupun lainnya yang mensyaratkan harus melafadzkan niat, karena niat itu di dalam hati dengan kesepakatan mereka.”[10]

4.      Menunda adzan maghrib dengan niat untuk kehati-hatian

Hal ini bertolak belakang dan menyelisihi sunnah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[11]

Penutup dan Kesimpulan

Demikianlah pembahasan kita kali ini, mungkin hanya empat jenis bid’ah saja yang dijelaskan disini, walaupun bid’ah-bid’ah lainnya yang tersebar dikalangan masyarakat sungguh banyak sekali. Insya Allah dilanjutkan pada pembahasan selanjutnya. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat, dan semoga amalan kita bisa berbekal dengan keikhlasan dan ilmu tentang sunnah yang dapat menjadikan kita nikmat dalam menegakkan sunnah dan juga termasuk orang-orang yang diampuni dosa-dosanya setelah menjalani bulan Ramadhan kali ini.
Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”[12]

Wallahu ‘alam bis shawab.
Penulis: Ahdan Ramdani (Abu Abdillah Al-Atsary)
29 Sya’ban 1432 H / 31 Juli 2011 M

[1] Hadits Riwayat Imam Bukhari: 6689 dan Imam Muslim: 1907
[2] Hadits Riwayat Imam Bukhari: 20 dan Imam Muslim: 1718
[3] Hadits Riwayat Imam Muslim: 1718
[4] Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Battoh dalam Kitab Al-Ibanah ‘an Ushul Ad-Diyanah: II/212/2 dan Imam Al-Lalika’i dalam Kitab As Sunnah: I/21/1 secara mauquf (sampai pada sahabat) dengan sanad yang shahih (dapat diterima)
[5] Kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam
[6] Kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam
[7] Q.S. Al-Baqarah [2]: 183
[8] Kitab Shofwah Al-Bayan fii Ahkam Al-Adzan wa Al-Iqomah: 115-116
[9] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih  (hadits shahih berdasarkan kesepakatan Imam Bukhari dan Imam Muslim)
[10] Kitab Al-Ittiba’: 62
[11] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih (hadits shahih berdasarkan kesepakatan Imam Bukhari dan Imam Muslim)
[12] Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih (hadits shahih berdasarkan kesepakatan Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Perbedaan IQ, EQ dan SQ

Kecerdasan Spiritual (SQ)
Merupakan kemampuan kita untuk berahlak mulia dan mengenal siapa diri kita dan Tuhan kita. Jadi SQ bukan hanya kemampuan menjalankan shalat atau membaca Al-Qur’an semata, tapi bagaimana semua ibadah yang kita laksanakan dapat dimaknai dan diaplikasikan dalam kehidupan kita, artinya bagaimana perilaku kita adalah merupakan cerminan dari ibadah yang telah kita laksanakan. Sehingga kita menjadi manusia yang dicintai oleh Tuhan dan mahluk-Nya.

Kecerdasan Emosional (EQ)

Adalam kemampuan kita untuk dapat mempengaruhi dan diterima orang lain dengan baik. Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.

Selama ini EQ kurang diajarkan pada anak-anak, sehingga kemampuan anak untuk mencinta dan dicinta oleh sesama menjadi kendala dalam bergaul dan berteman. Dan kesulitan dalam bermasyarakat berawal dari kurangnya kecerdasan emosional kita.

Kecerdasan Intelektua (IQ)

Ialah kemampuan kita untuk mengolah dan berfikir kognitif. Kecerdasan yang terukur dengan angka-angka sejak kita di bangku sekolah hingga kuliah, adalah kecerdasan intelektual. Kecerdasan inilah merupakan kemampuan yang diolah pada otak sebelah kiri kita. Bagaimana dengan otak sebelah kanan?

Mansusia siapapun dia, adalah manluk yang diciptakan Tuhan dan telah mengikat perjanjian dengan-Nya, bahwa dia adalah mahluk-Nya. Pada saat ruh ditiupkan oleh Sang Pencipta, manusia dibekali dengan sifat-sifat yang mulia untuk bekal hidupnya. Sifat-sifat yang ditiupkan Tuhan itulah fitrah yang dibawa lahir di
dunia. Jadi ketika manusia telah menjadi janin dan lahir di dunia ini dia telah memiliki fitrah yang suci, fitrah dari Tuhannya.

Oleh karena itulah fitrah manusia harus selalu dijaga agar tidak terkotori dan teracuni oleh sifat-sifat syaitan yang sering kita sebut dengan nafsu manusia. Yaitu: dengki, sombong, dusta, malas, berlebihan dan lain sebagainya. Namun kita sering menyebutnya itu adalah manusiawi. Sebenarnya hal-hal tersebut adalah sifat-sifat syaitan yang dikirim syaitan sejak manusia lahir ke muka bumi ini.

Macam-Macam Uang Logam Indonesia

Sejak kemerdekaan kita, Indonesia telah mengeluarkan berbagai bentuk pecahan uang logam, ada yang terbuat dari nickel, kuningan, alumunium bahkan yang terbaru berbahan bimetal. Secara keseluruhan Indonesia memiliki 15 jenis pecahan dari yang terkecil yaitu 1 sen s/d yang terbesar 1000 rupiah.
Pecahan-pecahan tersebut adalah:
1. 1 sen
2. 5 sen
3. 10 sen
4. 25 sen
5. 50 sen (2 jenis)
6. 1 rupiah
7. 2 rupiah
8. 5 rupiah (3 jenis)
9. 10 rupiah (3 jenis)
10. 25 rupiah (2 jenis)
11. 50 rupiah (3 jenis)
12. 100 rupiah (4 jenis)
13. 200 rupiah
14. 500 rupiah (2 jenis)
15. 1000 rupiah ( 2 jenis)



Uang logam Indonesia (27 jenis)

Dari ke 27 jenis pecahan tersebut, plus satu lagi yang baru saja diedarkan yaitu Rp.1000 emisi 2010, terdapat lebih banyak lagi variasi emisi tahun, total semuanya terdapat 78 variasi emisi. Untuk mengumpulkan semuanya tidaklah mudah. Ada emisi-emisi tertentu yang sangat sukar ditemukan baik dalam kondisi biasa apalagi dalam kondisi UNC.


PECAHAN 1 SEN


Merupakan uang logam dengan pecahan terkecil yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, berbahan alumunium dan bertahun 1952. Harga menurut katalog untuk kondisi UNC sekitar Rp. 10.000,- perkeping




Pecahan 1 sen 1952




PECAHAN 5 SEN


Juga terbuat dari alumunium dan mempunyai 2 variasi emisi yaitu 1951 dan 1954, harga Rp. 5000 perkeping UNC.





Pecahan 5 sen emisi 1951 dan 1954





PECAHAN 10 SEN



Terbuat dari alumunium, mempunyai 3 variasi emisi yaitu 1951, 1954 dan 1957. Harga ketiga variasi ini sekitar Rp. 5000 perkeping UNC.




Pecahan 10 sen variasi emisi lengkap, 1951, 1954 dan 1957




PECAHAN 25 SEN


Berbahan alumunium dan mempunyai 3 variasi emisi: 1952, 1955 dan 1957. Harga sekitar Rp. 5000 perkeping UNC.






Pecahan 25 sen variasi emisi lengkap




PECAHAN 50 SEN


Terdapat 2 jenis pecahan 50 sen yang pernah dikeluarkan oleh Indonesia yaitu:


1. PECAHAN 50 SEN DIPONEGORO


Terdiri dari 4 variasi emisi yaitu 1952, 1954, 1955 dan 1957, emisi 1954 adalah yang terlangka dan bernilai sekitar Rp. 50.000 perkeping, sedangkan yang lainnya sekitar Rp. 5000.



Pecahan 50 sen Diponegoro variasi emisi lengkap



2. PECAHAN 50 SEN ALUMUNIUM


Mempunyai 3 variasi emisi, 1958, 1959 dan 1961, Harga ketiga variasi kurang lebih sama yaitu Rp. 5000 perkeping UNC.



Pecahan 50 sen variasi emisi lengkap




PECAHAN 1 RUPIAH



Hanya ada satu macam saja, yaitu emisi 1970 dan terbuat dari alumunium. Harga hanya beberapa ribu rupiah saja perkepingnya.



Pecahan 1 rupiah 1970




PECAHAN 2 RUPIAH


Juga hanya ada satu macam, terbuat dari alumunium emisi 1970, harga sekitar Rp. 2000 perkeping.



Pecahan 2 rupiah 1970



PECAHAN 5 RUPIAH



1. PECAHAN 5 RUPIAH BURUNG


Terbuat dari alumunium bertahun 1970, harga menurut katalog sekitar Rp. 8000 perkeping UNC.



Pecahan 5 rupiah 1970






2. PECAHAN 5 RUPIAH KELUARGA BERENCANA (KB)



Disebut juga sebagai 5 rupiah KB (besar), bertahun 1974, harga sekitar Rp. 3.000 perkeping.



Pecahan 5 rupiah 1974 KB (besar)



Emisi berikutnya mempunyai bentuk lebih kecil sehingga sering disebut sebagai KB (kecil), terbuat dari alumunium dan bertahun 1979, 1995 dan 1996, kedua emisi terakhir lebih langka sehingga bernilai jual sedikit lebih tinggi yaitu sekitar Rp. 6.000,- untuk kondisi UNC.



Pecahan 5 rupiah KB (kecil) variasi emisi lengkap



PECAHAN 10 RUPIAH



1. PECAHAN 10 RUPIAH NICKEL

Hanya terdiri satu emisi yaitu tahun 1971, harga jual sekitar Rp. 4000 - Rp. 5000 perkeping.



Pecahan 10 rupiah 1971



2. PECAHAN 10 RUPIAH KUNINGAN


Bergambar Tabanas dan hanya terdiri dari satu emisi yaitu 1974, harga sekitar Rp. 5000.



Pecahan 10 rupiah 1974



3. PECAHAN 10 RUPIAH ALUMUNIUM


Juga bergambar Tabanas dan bertahun 1979, harga juga sekitar Rp. 5.000 perkeping.



Pecahan 10 rupiah 1979




PECAHAN 25 RUPIAH



1. PECAHAN 25 RUPIAH NICKEL


Bergambar burung dan bertahun 1971, harga Rp. 5000 perkeping.



Pecahan 25 rupiah 1971



2. PECAHAN 25 RUPIAH ALUMUNIUM


Bergambar buah pala dan mempunyai 6 tahun variasi emisi yaitu 1991, 1992, 1993, 1994, 1995 dan 1996. Yang tersulit adalah emisi 1993. Harga jual sekitar Rp. 1000 perkeping.



Pecahan 25 rupiah variasi emisi lengkap





PECAHAN 50 RUPIAH


1. PECAHAN 50 RUPIAH NICKEL

Bergambar burung cendrawasih, terbuat dari nickel dan hanya terdiri dari satu emisi yaitu 1971, bernilai jual sekitar Rp. 5000 perkeping.


Pecahan 50 rupiah 1971



2. PECAHAN 50 RUPIAH KUNINGAN


Bergambar komodo, terbuat dari kuningan dan terdiri dari 8 variasi emisi 1991, 1992, 1993, 1994, 1995, 1996 dan 1998. Emisi tersulit adalah 1997. Uang logam ini masih dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah.



Pecahan 50 rupiah kuningan emisi lengkap

3. PECAHAN 50 RUPIAH ALUMUNIUM

Bergambar burung Kepodang, terbuat dari alumunium dan terdiri dari 3 emisi yaitu 1999, 2001 dan 2002.


Pecahan 50 rupiah alumunium variasi emisi lengkap



PECAHAN 100 RUPIAH


Sejak tahun 1973 Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai macam pecahan 100 rupiah, dimulai dengan pecahan 100 rupiah berbahan nickel dan berukuran besar dengan gambar rumah gadang (sering disebut sebagai 100 tebal), lalu digantikan pecahan yang lebih tipis (100 tipis) sampai yang terakhir terbuat dari bahan aluminium.




1. PECAHAN 100 RUPIAH NICKEL (TEBAL)


Terbuat dari nickel, hanya terdapat satu variasi saja yaitu tahun 1973, harga berkisar dari Rp. 1000 s/d Rp. 10.000 perkeping tergantung kualitasnya.



Pecahan 100 rupiah 1973 tebal



2. PECAHAN 100 RUPIAH NICKEL (TIPIS)


Lebih tipis dibandingkan pendahulunya, juga terbuat dari nickel, emisi 1978, harga lebih murah sedikit bila dibandingkan dengan yang tebal.



Pecahan 100 rupiah 1978 tipis





3. PECAHAN 100 RUPIAH KUNINGAN


Bergambar karapan sapi dan terdapat 8 tahun emisi yaitu 1991, 1992, 1993, 1994, 1995, 1996, 1997 dan 1998. Masih relatif mudah ditemukan.



Pecahan 100 kuningan



Pecahan 100 rupiah kuningan variasi emisi lengkap 1991 s/d 1998



4. PECAHAN 100 RUPIAH ALUMUNIUM


Bergambar burung Kakatua Raja, dan memiliki 7 tahun emisi,

yaitu 1999, 2000, 2001, 2002, 2003, 2004 dan 2005. Masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.



Pecahan 100 rupiah aluminium



Pecahan 100 rupiah variasi emisi lengkap 1999 s/d 2005



PECAHAN 200 RUPIAH



Terbuat dari alumunium, bergambar Jalak Bali dan hanya terdiri dari satu emisi yaitu tahun 2003. Juga masih dipergunakan sebagai alat pembayaran.



Pecahan 200 rupiah alumunium emisi 2003


PECAHAN 500 RUPIAH


1. PECAHAN 500 RUPIAH KUNINGAN


Terbuat dari bahan kuningan (aluminium-perunggu) dengan gambar bunga melati dan angka Rp.500 kecil di bagian bawah.



Pecahan 500 rupiah kuningan variasi emisi 1991 dan 1992


Emisi-emisi tahun berikutnya mempunyai gambar muka yang berbeda, bunga melatinya menjadi kecil dan angka 500 rupiahnya menjadi besar



Pecahan 500 rupiah kuningan variasi emisi 1997, 2000, 2001, 2002, 2003



2. PECAHAN 500 RUPIAH ALUMUNIUM


Bergambar bunga melati dan Garuda Pancasila beserta tahun emisi yaitu 2003.



Pecahan 500 rupiah alumunium emisi 2003





PECAHAN 1000 RUPIAH BIMETAL



Terbuat dari 2 macam logam (metal) sehingga di sebut bimetal. Bagian cincin terbuat dari campuran copper-nickel (tembaga-nikel) dan bagian tengah dari bahan brass (kuningan).


Satu sisi bergambar kelapa sawit dan sisi lainnya bergambar Garuda Pancasila dengan tahun penerbitan. Terdapat 6 tahun emisi yaitu 1993, 1994, 1995, 1996, 1997 dan 2000




Pecahan 1000 rupiah bimetal variasi emisi lengkap




PECAHAN 1000 RUPIAH
(BARU)
Pada bulan Juli 2010, Bank Indonesia mengeluarkan pecahan 1000 rupiah baru berbahan Nickel Plated Steel (NPS). Mari kita lihat bentuknya




1000 Rupiah yang diedarkan mulai Juli 2010


Uang-uang logam ini merupakan uang logam yang dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi selain uang-uang tersebut di atas, Bank Indonesia juga mengeluarkan uang-uang logam yang terbuat dari perak dan emas dengan pecahan yang beragam seperti 250 rupiah, 750 rupiah, 2000 rupiah, 5000 rupiah, 10000 rupiah, bahkan ada yang 850 ribu rupiah. Uang logam jenis ini merupakan uang logam peringatan, dikeluarkan dalam jumlah amat terbatas dan mempunyai nilai koleksi yang sangat tinggi. Kita akan membahas uang-uang logam edisi khusus ini dilain kesempatan.

Ada sebagian kolektor yang gemar mengumpulkan uang logam yang dalam kondisi masih terbungkus (rol) asli keluaran Bank Indonesia. Semua uang yang terbungkus ini sudah barang tentu berkondisi UNC dan bernilai jual jauh lebih tinggi daripada yang sudah terbuka. Saya lampirkan beberapa diantaranya. Adakah diantara para pembaca yang bisa menduga rol yang berwarna hijau muda dengan 2 garis putih di masing2 ujungnya (di bagian kiri bawah gambar) berisi jenis uang logam yang mana?


Jawaban : Rp.25 (1971)

Pengikut